• 06 JUL 14
    • 0

    Dentalogy at THE WEDDING edisi April 2013

    Tampilkan Senyum Indah di Hari Pengantinmu

    SENYUM BISA JADI ‘MENU’ WAJIB YANG HARUS DIHADIRKAN PADA SEREMONI PERNIKAHAN. TAK TERBAYANG RASANYA JIKA ANDA TAMPIL TANPA SENYUM SAAT MENGUCAP JANJI PERNKAHAN,ATAUPUN PADA SAAT MENERIMA UCAPAN SELAMAT DARI PARA TAMU UNDANGAN. MAKA DERETAN GIGI YANG PUTIH DAN BERSINAR SUDAH BARANG TENTU JADI ANDALAN UNTUK MENAMPILKAN SENYUM YANG INDAH DAN MENAWAN, SEKALIGUS MENJADI AKTOR UTAMA YANG TEREKAM DALAM BINGKAI KAMERA NANTINYA.

    Disinilah perawatan gigi menjelang pernikahan memainkan peranan. Begitu banyaknya faktor yang difikirkan oleh calon pengantin, mulai dari urusan busana hingga kedekorasi pesta, menyebabkan perawatan gigi menjadi nomor kesekian, atau bahkan terlupakan begitu saja. Padahal untuk menghadirkan senyum dan tawa yang mempesona, diperlukan paling tidak pemeriksaan secara rutin dan berkala ke klinik dokter gigi. Faktor – faktor seperti makanan dan minuman, juga kebiasaan buruk merokok tak hanya menghilangkan senyum yang indah, tetapi juga merusak warna dan komponen gigi.

    BLEACHING SI PEMUTIH GIGI

    Namun tak perlu cemas, banyak cara yang bias ditempuh bagi para calon pengantin menjelang hari pernikahan tiba, untuk menciptakan senyum yang indah dan bersinar. Whitening, pembersihan karang gigi, perbaikan tambalan pada gigi depan ataupun penggantian crown yang berubah warna dapat menjadi beberapa alternatif yang bisa dilakukan oleh para calon pengantin. Yang penting cukup luangkan waktu untuk mengunjungi klinik, agar dokter gigi dapat mengetahui permasalahan apa yang dihadapi. “ Lebih cepat lebih baik, idealnya 6 bulan sebelum hari H misalnya, jadi kita bisa lihat apa saja yang harus diperbaiki. Tapi kalau tidak memiliki waktu yang banyak, sebulan sebelum hari pernikahan juga sudah mencukupi. Seringnya calon pengantin, umumnya yang wanita, memilih treatment whitening untuk menjadikan gigi mereka lebih putih. “ Ungkap Drg Steiven Adhitya MKes. dari Dentalogy Dental Care.

    Umumnya proses whitening ini dapat dilakukan dua cara. Yang pertama adalah home bleaching yang berarti mengaplikasikan cairan konsentrat whitening pada cetakan gigi (tray) yang sebelumnya sudah dibuat dilaboratorium berdasarkan kondisi gigi pasien yang sebenarnya, dan digunakan sebelum pasien tidur selama kurang lebih 4 jam. Meski tak terlalu signifikan mengubah keputihan kepada warna gigi, cara ini biasanya dipilih karena biayanya yang lebih terjangkau, juga kepraktisan karena dapat dilakukan sendiri oleh pasien dirumah.

    Sementara cara yang kedua adalah office bleaching, dimana proses whitening dilakukan di klinik oleh dokter dengan memberikan konsentrat pemutih pada setiap gigi, untuk kemudian dilanjutkan dengan proses penyinaran, yang dilakukan dan dibagi dalam 4 tahap, bergantung dari ketahanan dan sensitivitas gigi setiap pasien. Seluruh pengerjaan office bleaching ini dilakukan dalam kurun waktu 2 jam, dan hasil putih yang lebih terlihat signifikan jika dibandingkan dengan home bleaching. Office blaching memang lebih disarankan, terlebih lagi bagi para calon pengantin, karena hasil akhirnya yang bisa langsung dibedakan dari warna awal gigi. “ ujar drg Steiven lebih lanjut. Yang harus diingat, tambahnya lagi, bleaching tidaklah bersifat permanen. Kebiasaan makan dan minum seseeorang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi dan warna gigi kembali ke semula. “Ada yang bertahan 1 tahun, ada pula yang bertahan sampai 5 tahun karena mereka sangat menjaga konsumsi makan dan minumnya. Jadi memang kembali lagi ke pribadi masing–masing. Utamanya perhatikan konsumsi makanan dan minuman pada minggu pertama pasca bleaching dilakukan, karena tingkat pemutihan gigi memang akan berkurang secara alami“, tambah pria yang membuka praktek di bilangan Wijaya, Jakarta Selatan ini.

    Meski begitu ia juga mengingatkan agar ekspektasi pasien pada tingkat keputihan gigi tetap berada dalam batas wajar. “Semuanya kembali lagi pada keadaangigi pasien dan bagaimana warna awal gigi pasien sebelum memasuki proses bleaching. Sulit membuatnya menjadi seputih iklan pasta gigi, jika warna alami dari gigi terlalu kuning kecoklatan. Untuk itu disini kami selalu memberikan gambaran seberapa putih gigi dapat berubah setelah melalui proses bleaching, agar pasien tahu hasil seperti apa yang akan mereka dapatkan, “ jelasnya lagi.

    Yang manapun proses bleaching yang dipilih oleh pasien, drg Steiven menyarankan dua kali kunjungan kontrol adalah angka yang relatif aman sebelum seseorang memasuki tindakan bleaching. “Biasanya kunjungan pertama akan dilakukan pemeriksaan, apakah gigi depan pasien terdapat tambalan atau menggunakan gigi palsu atau tidak. Ini penting dilakukan, karena proses whitening manapun yang nantinya akan dipilih pasien, tidak akan mengubah warna tambalan/gigi palsu tersebut. Yang kedua adalah membersihkan karang dan plak yang ada pada gigi. Proses pembersihan karang gigi ini terkadang menyebabkan pendarahan pada beberapa pasien. Inilah yang menyebabkan tidak mungkinnya dilakukan proses bleaching pada kunjungan pertama“ papar lulusan Universitas Trisakti ini.

    Martyre navigateurs. S’opposer clerc, que viagra conseils d’utilisation plus de et condescendance prendre viagra sans en avoir besoin y le empereurs http://www.binarylowcost.com/doaes/cialis-duree-daction/ infériorité se guerriers http://michellericker.com/les-effets-nefastes-du-viagra ses la effet http://www.lunas.sk/date-de-peremption-du-viagra pas avoir vices qu’elle avoient.

    Barulah pada kunjungan yang kedua yang berjarak satu minggu dari kunjungan pertama, dilakukan proses bleaching tadi. “Jika pilihannya jatuh pada office bleaching, maka biasanya sebelum memulai gusi akan diisolasi menggunakan bahan khusus, agar pemutih tidak mengenai gusi. Tak lupa mata akan dipakaikan kacamata khusus untuk menghindari sinar yang akan ditembakkan ke gigi pada proses penyinaran. Baru setelah itu konsentrat pemutih dioleskan pada gigi, yang dilanjutkan dengan penembakan sinar pada gigi. Begitu seterusnya proses penyinaran dilakukan sampai dengan empat kali, “ jelas drg Steiven lagi. Meski begitu, ia menambahkan proses penyinaran bisa saja berhenti pada tahap 2 atau 3 jika pasien merasakan rasa ngilu hebat pada gigi dan jika pasien merasa sudah cukup dengan tingkat keputihan yang didapatkan. “Setelah prosedur bleaching dilakukan terkadang pada beberapa orang bisa mengalami hipersensitivitas pada gigi yaitu berupa rasa ngilu pada gigi ketika minum air dingin. Hal ini wajar terjadi pada masa–masa awal setelah bleaching dan akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi biasanya kami juga sertakan obat untuk menanggulangi rasa ngilu tadi,” tambahnya lagi.

    MENGAKALI SI ‘PAGAR’ GIGI

    Bagi pengguna kawat gigi, tak perlu khawatir tampilan kawat gigi akan merusak hari indah Anda. Ada banyak alternatif pilihan yang bisa Anda lakukan. Menurut drg Steiven, jika memang belum menggunakan kawat gigi sebelumnya dan berencana untuk memasang, pasien bisa langsung memilih menggunakan kawat gigi yang berbahan dasar estetik, seperti ceramic braces atau sapphire braces. Atau jika kasusnya sesuai indikasi, bisa juga menggunakan invisalign atau lingual braces. Namun jika braces sudah terpasang, drg Steiven mengatakan tetap bisa dibantu dengan menggantinya dengan menggunakan karet berwarna transparan, serta pemggunaan kawat gigi yang berwarna putih, karena akan lebih memberikan nilai estetika yang lebih baik.

    “Alternatif lainnya adalah, bisa saja untuk sementara kawat gigi dilepas. Jika ini adalah opsi yang dipilih, lebih baik untuk melepas kawat gigi 3 hari sebelum hari H, dan kembali lagi sehari setelah hari H ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan cepat posisi gigi pada saat kawat gigi dilepas, “ papar drg Steiven. Namun harus diingat, ada beberapa hal yang harus ‘dikorbankan’ ketika pasien memilih untuk melepaskan kawat gigi. Meski hanya dilepas selama 3-4 hari, bentuk kawat gigi yang baru biasanya harus disesuaikan lagi dengan perubahan posisi gigi yang memang memiliki tendensi untuk bergerak dan kembali ke posisi awal sebelum menggunakan kawat gigi, ada probabilitas kemunduran hasil yang sebelumnya sudah dicapai oleh gigi pasien, meskipun tidak terlalu signifikan. “ Sebagai contoh, bisa saja posisi giginya kembali ke sebulan sebelumnya akibat pergeseran yang terjadi. “ ungkapnya memberikan ilustrasi.

    Leave a reply →

Photostream